Si Cantik, muslimahku.. ^^


Memang benar ungkapan seorang motivator yang menyampaikan bahwa wanita itu ahli sejarah. Aku masih ingat beberapa momen penting dalam hidupku, indah maupun tak indah. Flash back, kisah sepuluh tahun yang lalu, 15 September 2003. Hari pertama menggunakan jilbab. Berangkat sekolah naek becak (tumben sekali soale biasanya naek lin) njemput temen segenk biar ada yang nemenin pas jalan dari gerbang sekolah ke kelas. Temenku yang bernama Hayyu itu bilang, “ Biasanya anak yang pertama kali kayak kamu ini datang sekolah pagi2 sekali waktu di sekolah masih sepi orang, lah ini kamu malah datangnya siang2 gini waktu sekolah udah rame.” Hehehe

Pagi itu aku jadi petugas upacara bendera, jadi petugas pembaca UUD 45, gimana bisa menyepi gtu jadinya malah tampil di hari pertama. Hahaha. “Semoga istiqomah ya.. Kamu bukan pakai kerudung karena seseorang kan?” ujar guru Bhs Inggrisku. “Insya Allah pak, ini keinginan sendiri.” 

Aku sampaikan niatku ke ibue, karena memutuskan pakai kerudung, berarti mengganti seragam sekolah. Alhamdulillah, ibue tidak keberatan. Sedangkan untuk baju keseharian yang lain bisa menyesuaikan, baju atasan pendek sama sweater panjang jadi baju favorite andalan. Pulang sekolah, ibue mengajakku beli jilbab langsungan untuk digunakan di rumah, warna putih, pakai tali yang dikalungkan ke belakang, sampai sekarang masih ingat berapa harganya. Jilbab putih itu dipakai sampai warna putihnya mulai suram. Sekarang, jilbab itu sepertinya sudah berpindah kepemilikan, ukurannya terasa’mengecil’ kalau digunakan sekarang.

Sepuluh tahun memang tidak bisa digunakan untuk mengukur tingkat keimanan sesorang. Menutup aurat itu kewajiban bagi setiap muslimah. Itu yang aku pahami. Berapa lama seseorang berjilbab tidak menentukan apakah dia lebih sholeh daripada yang baru berjilbab. Ada ghirah, saat pertama kali menggunakan jilbab. Itu benar. Iman itu naik turun. Itu juga benar. Menjaga ghirah itu tak mudah, juga benar. Dengan kata lain, hal itu juga tidak sulit. Tetap semangadh, keep istoqomah..
Momen sepuluh tahun ini memang tidak kurayakan secara seremonial, ada haru menyelinap mengingat masa2 itu. Kangen. Wajar.

Masa sekarang tak lagi sama dengan masa itu. Dulu mungkin aku hanya berfokus dengan diriku. Kini, aku juga memiliki konsekuensi untuk lingkunganku.  

“Ibuk, dek aish pake kudung..” pintanya saat kami mau keluar rumah. 



Comments

Popular posts from this blog

Dari Help Desk Menuju Nudge Desk: Peran Contact Centre dalam Membentuk Perilaku Wajib Pajak Digital

Study with Family (Part 4 - Dokumen VISA)

Study with Family (Part 3 - Sekolah Anak)