Strategi Menghadapi IELTS
Setelah mendapat beasiswa, perjalanan masih berlanjut untuk memenuhi syarat pendaftaran universitas, salah satunya sertifikat IELTS sebagai international students. Masing2 kampus punya requirements yang temen2 bisa cek di website resminya yaa, ada yang syarat minimum overall score aja, ada yang minimum overall score dan speaking/writing.
Kenapa judulnya strategiii? Karena itulah jalan ninjaku untuk mendapat overall score 7 di tes IELTS pertamaku. Flashback sekilas, aku belum pernah tes IELTS, TOEFL dkk karena sadar diri dengan kemampuan berbahasa Inggrisku yang segitu2 aja, sayang uang pendaftarannya kalau nilainya gak bagus. Pas daftar beasiswa pun, aku nyari beasiswa yang gak menyaratkan tes kemampuan bahasa Inggris di awal pendaftarannya. Alhamdulillah, ada beasiswa seperti itu, meski teteep nanti di tes masuk so pasti ada tes kemampuan bahasa Inggris, tapi setidaknya kan gratis hehehe. Duuh, ibuk Nani =)
Jadiii tetep yaa, musti nyiapin strategi untuk lolos tes beasiswanya duluu. Di sinii aku gak bahas detil tentang tes IELTS secara materi yaa lebih ke strategi teknisnya.
Strategi #1 Pilih format tes mau berbasis kertas/komputer/atau online.
IELTS terbagi dalam 4 tes kemampuan, yaitu listening, reading, writing, dan speaking. Secara umum, tesnya terbagi 3 ada yang berbasis kertas, berbasis komputer, dan IELTS Online. Waktu pendaftaran tes IELTS, temen2 sudah harus memutuskan mau pake format yang mana.
1. IELTS berbasis kertas
Jika temen2 pilih yang berbasis kertas, yaa dibayangin kayak ujian di sekolah yang pake kertas dan tulis tangan. Jadi untuk tes listening, reading dan writing temen2 nulis tangan di kertas jawaban yang sudah disediakan. Format ini cocok untuk temen2 yang lebih nyaman dengan metode konvensional, memegang kertas soal dan alat tulis untuk menuliskan jawabannya.
Kelebihan dari format ini, temen2 kalau mau 'mengoreksi' jawaban pertanyaan sebelumnya di soal listening, ya tinggal dihapus trus ganti jawaban. Naah, kalau yang berbasis komputer soal listeningnya kan ongoing jadi ya di layar komputer hanya menampilkan kolom jawaban untuk narasi soal yang lagi dibacakan.
Kekurangannyaa, pas di tes writing temen2 akan kesulitan untuk merevisi susunan kalimat atau paragraf, nyisipin kata/kalimat, atau typo penulisan, karena harus hapus dulu susunan kata atau kalimat yang sudah ditulis atau yaa dicoret-coret. Daan inii takes time. Selain itu, untuk tes listening karena bacaaan soalnya pake pengeras suara yang didengerkan bareng-bareng di kelas, jadii perlu diantisipasi kualitas pengeras suara dan distraksi suara dari sekitar.
Sementara untuk tes speaking berlangsung tatap muka, pelaksanaannya bisa sebelum atau sesudah tes tertulis (listening, reading, dan writing) sesuai info yang didapat setelah daftar tes.
2. IELTS berbasis komputer
Untuk tes berbasis komputer, temen2 akan mengerjakan tes listening, reading dan writing secara online menggunakan komputer di tempat tes yang ditunjuk. Sedangkan untuk tes speakingnya tetap berlangsung tatap muka.
Kelebihan dari metode inii, temen2 bisa mengondisikan waktu untuk memulai tes dengan klik tanda 'mulai' tes. Jadii misal ada yang berdoanya lebih lamaaa naah inii bisa dikondisikan karena mulai tesnya tidak harus di detik yang sama dengan peserta yang lain. Selain itu, untuk tes listening, masing2 akan disediakan headset untuk mendengar narasi soalnya, di sini temen2 bisa adjust volume dari suaranya. Untuk tes writing karena pengerjaannya dengan mengetik di format semacam word jadi temen2 bisa lebih mudah mengedit tulisan.
Kekurangannya, di bagian tes listening temen2 tidak bisa kembali mengoreksi jawaban sebelumnya karena layar menampilkan kolom jawaban dari narasi soal yang saat itu dibacakan.
3. IELTS Online
Mekanisme IELTS online untuk tes listening, reading, dan writing seperti tes berbasis komputer, hanya pelaksanaannya fleksibel bisa di rumah atau di mana saja dengan koneksi internet yang cukup. Pelaksanaan tes speakingnya juga berlangsung secara online.
Kelebihan dari format ini terletak di fleksibilitas karena kita tidak harus datang ke lokasi tes. Namun, kita harus memastikan koneksi internet yang cukup dan stabil selama pelaksanaan tes. Selain itu, kita juga harus memitigasi distraksi2 yang ada di sekitar lokasi saat pelaksanaan tes. Salah satu temenku yang mengambil format ini sewaktu pandemi, cerita kalau dia mengalami gangguan koneksi sewaktu pelaksanaan tes speaking jadi kurang begitu jelas mendengarkan pertanyaan yang disampaikan penguji.
Naah, silakan temen2 pilih format yang sesuai dengan kondisi temen2. Pengalamanku kemaren, dengan plus minus di atas, aku pilih tes yang berbasis komputer karena pertimbangan memitigasi risiko sewaktu tes writing dan kejelasan suara untuk tes listening.
Semoga ALLah mudahkan ikhitiar kita semua..

Comments
Post a Comment