Study with Family (Part 5 - Jer Basuki Mawa Beya)
Temen2 yang familiar sama peribahasa yang ada di judul postingan kali ini secara g langsung ketauan dulu pas SD ujiannya sering ngapalin RPUL atau di kamarnya nempelin poster gambar 27 propinsi di Indonesia, hehe..
Peribahasa jawa ini memiliki pesan bahwa setiap cita-cita atau keinginan pasti membutuhkan biaya. Meski kadang biaya ini sering diartisempitkan seputaran uang, sejatinya biaya ini juga mencakup biaya immaterial seperti tenaga dan waktu. Saat kita dihadapkan dengan cita-cita ingin melanjutkan studi di LN, kita musti mulai aware dengan biaya-biaya yang perlu kita persiapkan, dari persiapan biar eligible daftar beasiswa, hunting kampus, persiapan keberangkatan, sampai akhirnya settle di negara orang.
Aku yakin banyaaaaak temen2 yang pingin kuliah di LN tapi karena pertimbangan ini itu musti nunda dulu untuk menggapai mimpi ini. Terlebih yang sudah berkeluarga atau punya tanggungan, pertimbangan biaya ini jadi isu yang krusial. Daan bagikuu, konsekuensi dari keputusan besar untuk studi ke LN ini bukan cuman ke aku tapi juga untuk keluargaku, baik lingkup keluarga inti maupun keluarga besar. Sampai akhirnya aku merasa di titik 'aman' untuk lanjut studi, aku mulai ngajuin proposal ke keluarga untuk daftar beasiswa. Yup, even untuk mulai daftar beasiswa pun aku pertimbangannyaa banyaak, meski belum tentu juga kalau daftar pasti ketrima beasiswa. Tapii aku mikirnya kalau udah berani daftar artinya kan pasti pingin diterima, trus kalau ketrima ya udah musti siap sama konsekuensinya. Mulailah aku nyusun proposal dengan asumsi skenario dari yang pesimis sampe yang optimis trus gimana kalau ada unintended consequences.
Marii, kita bedah satu2...
Pertama, kita mulai dari persiapan untuk bisa daftar beasiswa yaa...
Apa dan kapan titik aman untuk mulai daftar beasiswa, sesuai dengan pertimbangan dan kondisi masing2 yaa.. Secara pribadi kita musti udah firm dengan keputusan kita tentang hal ini jadi jika nanti ada hal-hal di luar kendali, kita masih bisa mengondisikan untuk balek lagi on the track. Beberapa kondisi yang bisa jadi pertimbangan untuk nentuin titik aman, misalnyaaa adik yang sudah lulus kuliah; kita masih punya income (di luar beasiswa) untuk mengcover pengeluaran rutin di Indonesia, seperti cicilan dan kiriman ke orang tua; atau syukur2 kita sudah gak ada cicilan.
Beberapa beasiswa, menyaratkan tes kemampuan bahasa Inggris seperti IELTS, TOEFL, dkk, dan ini lumayan mahal untuk IELTS academic sekitar Rp3.500.000 sekali tes. Kalau misal hasilnya masih belum memenuhi minimum requirement untuk daftar beasiswa, terpeksyen musti tes lagi dan bayar lagi, hikss.. Karena ini dilakuin sebelum daftar beasiswa, jadi temen2 musti nyiapin budget ini sendiri (gak ditanggung sama beasiswa). Biar bisa memenuhi target score di percobaan pertama, beberapa temen nyiapin budget tambahan untuk ikut program intensif tes IELTS. Rentang biayanya macem2 tergantung metode belajarnya, berapa lama, dan provider lesnya.
Alhamdulillah, beasiswaku gak menyaratkan sertifikat IELTS dkk di awal pendaftaran. Malahan mereka ngasih pelatihan pendalaman bahasa inggris selama 2,5 bulan dan kesempatan tes IELTS sampe 2 kali agar awardee-nya bisa daftar kampus impian. Aku pinginnya sekali aja tes udah cukup, hehe.. Di Strategi IELTS ini, aku share jalan ninjaku ngedapetin overall score 7 di percobaan pertama tes IELTS yang official.
Alternatifnya biar gak keluar biaya inii, temen2 bisa nyari beasiswa yang requirementnya tidak menyaratkan adanya sertifikat tes kemampuan bahasa Inggris. Kalaupun nanti pas daftar kampus diperluin nilai IELTS, biaya tes IELTSnya ditanggung sama pemberi beasiswa. Alhamdulillah, adaa beasiswa yang seperti itu, yang penting temen2 bisa lolos tes seleksi beasiswanya.
Berikutnya, untuk persiapan seleksi beasiswa, temen2 musti banyak latian soal. Aku kemaren minim modal karena alhamdulillah Mamah Aul kirim buku latian soal ke rumah, dikasih softcopy soal2 latian bahasa Inggris sama Mas Hadi dan Aul. Kalau bahan latian soal banyaaak beredar juga di internet, yang penting di sini modal niat dan kesungguhan untuk rajin latian.
Kedua, untuk hunting kampus temen2 bisa cukup modal internet untuk gugling2 buka website kampus, nonton yutub, nyapa virtual kenalan yang lagi kuliah di LN terus ngajakin zoom untuk ngobrol lebih lanjut. Kalau ada temen yang udah balek dari study, langsung aja datengin ngobrol langsung lebih enak, energi mereka yang positif dan masih berapi-api lumayan bisa jadi penyemangat kita. Trus temen2 juga bs ikutan acara2 pameran pendidikan yang diadain sama agen pendidikan, US Embassy, British Council, dkk, dan ini gratiiiis. Mulai follow ignya, pantau kapan acaranya, trus daftar di link, setor email, ya paling siap2 aja setelah pameran direach-out sama agen atau kampus untuk diinfo penawaran program. Yang penting di sini, gak boleh mager, musti proactive dan inisiatif nanyaaa...
Okee, next yang ketigaa modal untuk secure accommodation. Seperti yang kutulis di Study with Family (Part 2 - Housing), kita perlu sedia deposit tanda jadi untuk booking rumah/tempat tinggal kita nanti di sana. Kalau di York, untuk accommodation on campus, temen2 cukup sedia £200 pas accept offer accommodation. Untuk tahun ke duaku di family accommodation off-campus (yang khusus untuk students) depositnya £500. Sedangkan, untuk private housing bervariasi yaa, bisa dicek di iklan propertinya, ada yang depositnya senilai 1 bulan (4 weeks) sewa, ada yang 5 minggu sewa. Deposit inii semacam uang mengedap yang ditahan sampe akhir periode sewa, tapii teteep karena dibayar di awal kontrak sewa bahkan sebelum kita berangkat, kita musti sedia ini di awal.
Selanjutnya, tahap ke empat, modal biaya untuk persiapan VISA. Selain dokumen yang ada di Study with Family (Part 4 - Dokumen VISA), untuk apply VISA kita juga musti siap modal di awal. Pengeluaran biaya untuk keperluan students (awardee) meski ditanggung sama beasiswa tapii sistemnya reimburse jadi temen2 musti sedia dulu di awal baru nanti ngajuin reimburse/penggantian. Ingaat musti dipertimbangkan jeda antara bayar sampe uangnya diganti yaaa, buat ngatur cash flow biar aman sentosaa, hehe.. Untuk yang bawa keluarga, so pastii ini biaya yang ditanggung sendirii, gak masuk biaya yang bisa diajuin reimburse ke beasiswa. Okee tarik nafas panjaaang, kita rinci satu2...
1. Persiapkan dana mengendap selama 28 hari untuk syarat di bukti pendukung keuangan. Jumlahnya tiap orang £680x9 bulan untuk kampus di luar London, kalau kampusnya di London perlu £845x9 bulan. Misal untuk lokasi York dengan dependentsnya suami/istri dan 2 anak, diperlukan dana mengendap sebanyak 3x£680x9 bulan. Meski ini bukan yang kita keluarkan tapiii kita musti sedia inii di awal. Saranku untuk ngatur cash flow, sebelum mulai tahap2 pembayaran, temen2 sediain dana ini duluu jadi pas cetak rekening koran, jumlahnya belum kereduce sama biaya2 di bawah ini.
2. Biaya tes kesehatan dan TB ceritificate tergantung lokasi tes dan siapa yang dites, paling mahal biaya tesnya di BIMC Kuta Rp1.041.000. Untuk lokasi lain, rata2 biaya tesnya untuk usia di atas 11 tahun Rp850.000, sedangkan anak2 di bawah 11 tahun Rp400.000. Cek di sini juga yaa Tuberculosis testing in Indonesia - GOV.UK jaga2 ada perubahan. Ini biaya per orang yaa, jadi disiapkan dana sejumlah orang yang akan tes. Selain biaya tes, dipertimbangkan juga transportasi ke lokasi rumah sakit yang ditunjuk. Dipastikan juga apakah biaya ini ditanggung beasiswa, seingetku kata temen LPDP mereka keluar biaya sendiri untuk tes ini.
3. Setelah input data diri di aplikasi VISA, kita akan diminta untuk membayar asuransi kesehatan (immigration health surcharge/IHS) untuk bisa melanjutkan ke tahapan submit aplikasi VISA. Pastikan dulu isian datanya sebelum lanjut ke tahap pembayaran. Aku pelan2 ngeceknya sambil berdoa karena deg2an mau transaksi gede. IHS ini dibayar per orang sesuai dengan masa study (tinggal), temen2 bisa cek di UKVI IHS untuk update dan info lebih lanjutnya. Dengan bayar asuransi ini kita berhak asuransi kesehatan di UK (NHS), semacam BPJS di Indonesia. Misal untuk student VISA, IHS nya £776 per tahun, jadi kalau study 2 tahun tinggal dikaliin aja jumlahnya. Untuk keluarga (dependents) jumlah iurannya sama dengan student. Jadii semakin lama study, semakin banyak keluarga, ya makin besar juga modal yang perlu kita siapkan. Pengeluaran biaya IHS untuk students, dapat diminta reimburse ke provider beasiswa, jadii pas tahapan bayar2 jangan lupa diskrinsut untuk bukti pendukung pas pengajuan reimburse, terutama pas bagian IHS number dan jumlah pembayaran. Pas kita bayar nanti besarannya akan dikonversi ke kurs USD jadi nilai rupiah yang kita bayar tergantung kurs USD-Rp saat itu. Temen2 pastikan kartu debet sudah dibuka aksesnya untuk transaksi internasional yaa dan pertimbangkan nilai limit transaksi harian. Aku butuh 2 hari untuk bisa transaksi ini karena kepentok limit.
4. Setelah bayar IHS, selanjutnya kita bayar fee pendaftaran VISA (£524 per orang) sesuai Student Visa, besaran fee ini sama untuk tiap anggota keluarga, apapun hasil keputusan VISAnya nanti, apakah diterima atau ditolak. Inii juga samaa, pas tahapan bayar untuk student jangan lupa diskrinsut dan klik 'print confirmation' untuk dokumen pendukung ngajuin reimburse ke beasiswa.
5. Setelah beres payment IHS dan VISA, tahap berikutnya pilih jadwal biometric di VFS Global. Untuk pengajuan VISA UK pilihan Lokasi VFS di Jakarta, Surabaya, dan Bali. Untuk lokasi Jakarta, temen2 bisa pilih yang reguler tanpa ada biaya tambahan, tapiii kalau di Surabaya dan Bali ada biaya tambahan Rp1,6 juta per orang. Di sini, temen2 juga musti pertimbangin transport untuk ke lokasi VFS. Untuk pengambilan passport setelah keluar keputusan VISAnya bisa diambil langsung ke lokasi atau minta dikirim dengan tambahan biaya untuk pengirimannya.
Next, biaya untuk beli tiket pesawat dan transport ke dan dari bandara. York gak punya bandara, jadi musti mlipir ke bandara terdekat di Manchester atau London. Mayoritas temen2 nyaranin k Manchester karena lokasinya yang lebih dekat dan ada bandara yang nyambung dengan stasiun kereta, misal mau lanjut kereta ke York. Dengan pertimbangan belum tau kondisi bandara di sana, bawaan yang banyak, dan udah menempuh perjalanan panjang jadinya aku pesen mobil ke orang Malaysia minta dijemput di bandara. Memang jadinya butuh budget lebih untuk ini dibandingin kalau pesen uber sendiri atau naek kereta, tapi setidaknya lebih tenang dan nyaman.
Setelah VISA terbit, aku mulai nanya2 ke Ari, temen kantor yang sering jalan2 k LN, tentang pertiketan, agen tiket yang amanah, perbandingan antar maskapai karena kami gak banyak referensi hehe.. Karena ini perjalanan jauuuh kami yang pertama dan pinginnya di pesawat nanti duduknya deketan, selain pesen tiket kami juga alokasiin budget tambahan untuk pesen kursi. Pas nanya2 k temen2 perlu enggaknya pesen kursi di awal, ada yang bilang kalau sekeluarga biasanya duduknya diatur deketan pas check in. Tapii berhubung kami khawatir Azzam Aisha dianggap udah bukan anak2 lagi, daripada gak tenang kalau ada yang duduknya kepisah, kami akhirnya booking kursi di awal.
Setelah rumah, VISA, dan tiket sudah aman, berikutnya mulai alokasiin biaya tetek-bengek seperti jaga2 beli koper gedee untuk packing, pamitan ke keluarga besar dan teman2. Musti dikasih pagu yaaa, karena kita masih musti nyiapin modal untuk settle di negara tujuan, seperti beli keperluan untuk rumah, seragam sekolah anak2, bayar sewa di muka, dll. Alhamdulillah, dari beasiswa kita akan dapat settle-in allowance sebesar 2 x LA, yang penting temen2 pastiin kira2 dapatnya kapan untuk pertimbangan ngatur cash flownya.
Semoga sharing ini bisa ngasih gambaran ke temen2 yang sedang nimbang2 untuk lanjut study di LN baik sendiri maupun bersama keluarga. Ini sebuah ikhtiar, hitungan manusia yang sangat mungkin berbeda dengan kalkulator ALLah jadii tetap iringi ikhtiar kita dengan banyaak2 berdoa dan minta restu dari keluarga...
Semoga ALLah memudahkan ikhtiar kita semuaa..
with Love,
Nani

Comments
Post a Comment